Selasa, 26 April 2011

Benarkah cintamu cinta sejati...... ( kisah menyakitkan)


Berikut adalah catatan FB dari keponakanku yang lagi di pesantren semoga bisa diambil ibrohnya:
oleh Abdurrahman Nasrulloh Husein

Para ulama' sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu 'anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghunjam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu 'anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu 'anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu 'anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut diantara bait-bait syair yang pernah ia rangkai :

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negri Samawah

duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?

Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita

paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.

Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,

semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu 'anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu 'anhu. Dan Subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu 'anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu 'anhu.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu 'anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada 'Aisyah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya. Mensikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata:

"Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?"

Akan tetapi tidak begitu lama, Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya "memble" (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada 'Aisyah radhiallahu 'anha. Mendapat pengaduan laila ini, maka 'Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.

"Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahman pun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu 'Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu 'anhu?

Yaa allah semoga saya tidak terjatuh seperti sahabat Rosull ini.............. ( amin)

Minggu, 24 April 2011

Balada Sebuah TV Tuner



Alkisah terdapat TV tuner yang nyambung ke monitor komputer untuk menonton Channel –Channel TV yang mengasyikkan dan menggairahkan di hari-harinya. Kenapa tidak, lihat saja banyak acara yang begitu menakjubkan. Dari berita khas yang memojokkan di pagi hari, ghibahtainment siangan dikit, pas terik matahari acara ulangan kejadian miris pagi, sore hari yang menuangkan acara penuh tangisan tipuan penuh kekerasan, malam selepas petang Sinetron murahan tanpa makna yang digemari ibu-ibu, dan terakhir, acara panas di malam hari yang menggerahkan bujang serta mojang. Itulah derita TV tuner yang sebenarnya, muak dengan kenyataan dirinya yang hina karena dipaksa melayani nafsu bejat pemiliknya.

Suatu hari, TV tuner yang sudah berhari-hari mengalami siksaan bathinnya terlihat mulai lesu. Gambar yang dihasilkannya ke monitor sudah mulai rabun dan pudar. Warna hitam-putih mulai ditampilkan ketika ia pertama kali disentuh tombol merah powernya. Kelihatannya, TV tuner sudah menampakkan gelagat tidak beres. Tapi ini baru awal dari penderitaannya yang panjang. Berselang beberapa hari kemudian karena ia terus dipaksa memenuhi hasrat pemiliknya . Ia akhirnya berwarna biru dan bergoyang-goyang gambarnya di awal warna yang ia berikan kepada si pemilik yang mau menonton.

Sebenarnya, dalam lubuk komponennya si TV Tuner berkata “mengapa pemilikku terus memaksaku yang sedang sakit ini”. “Apakah si pemilik tak mersakan sakitnya ketika aku dimanfaatkan terus menerus untuk menampilkan keburukan yang aku sendiri tidak mau” Lirih TV tuner

Hari demi hari telah berganti si TV turner semakin akut sakitnya dan saat ini sedang sekarat di atas meja Komputer. Si pemilik terlihat begitu khawatir dn panik setelah melihat kenyataan Si TV tuner sudah nyaris menghadapi sakaratul mautnya. Usaha untuk membuka dan memperbaiki komponen di dalamnyapun tidak memberikan dampak apa-apa, semua sia-sia. Antena baru tak menambah kondisi TV turner yang terus menurun. Akhirnya, tepat 2 hari setelah perbaikan manual si pemilik. Si TV tuner wafat dan kembali menjadi rongsokan.

Sekarang, hanya tersisa si pemilik yang sedih kehilangan TV tuner kesayangannya. Ia meratapi kepergiannya dengan dendam untuk membeli yang baru. Tapi apa daya kemampuan finansialnya tak cukup untuk membeli yang baru apalagi beli TV yang keluaran terbaru. Akhirnya, si pemilik saat ini hanya mampu bermain komputer tanpa mampu menonton TV lagi.

Terlepas kejadian tersebut, perlahan tapi pasti. Si pemilik akhirnya keranjingan menulis keluh kesahnya di komputer, setelah ia mengawalinya dengan curhat tentang kenangan indahnya bersama almarhum TV tuner. Dan akhirnya, si pemilik berubah menjadi orang baru yang mampu produktif untuk kehidupannya. Tiada lagi yang menyita perhatiannya dengan suatu berita, tiada lagi kisah provoktif yang ingin ia ceritakan kepada temannya yang lain sesama penikmat Chanel TV. Inilah yang membuatnya mengerti dan bersyukur tentang arti pengorbanan sang TV tuner Yaitu, semata-mata agar si pemilik lebih menempatkan dirinya kepada langkah pasti di kehidupannya bukan di dunia hayalan hasil pendidikan dan pembinaan StasiunTV. Ini bukanlah langkah semu yang dipaksakan dari kepemilikan sebuah TV tuner, Tapi ini langkah solutif untuk memilih kehidupanmu.

Di dedikasikan bagi para penikmat TV yang terlalu egois dan otoriter terhadap Hak Asasi TV (HAT)

Rabu, 20 April 2011

KARTINI, MUSLIMAH PENCARI CAHAYA


“Ibu kita kartini, Pendekar Bangsa
Pendekar kaumnya, untuk merdeka”


Kisah ini mungkin terlalu sering kita dengar melalui nyanyian lagu-lagu nostalgia Indonesia semasa kecil tersebut. Lantunan nada mudah yang menyimpan kisah perjuangan seorang wanita dari karangan W.R. Supratman ini begitu bergelora. Seharusnya, sudah jelaslah bagaimana kita mengartikan arti sebuah perjuangan seorang Kartini. Terlepas dari kontroversi sejarah yang diputar balikkan oleh kaum pagan. Ia tetap merupakan sosok mujahidah yang telah mencatatkan sejarah dengan membuka akses pendidikan yang dibendung oleh sistem sosial yang tidak berkeadilan.

"Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!" Itulah ungkapan yang dilontarkan Kartini ketika menampik panggilan Raden Ajeng yang diberikan kepadanya sebagai seorang putri bangsawan (bupati). Kerendahan hati mampu mereduksi dirinya sebagai seorang kritikus kemapanan yang solutif. Kecerdasannya terhadap penguasaan bahasa, menjadi kekuatan diplomatis yang menghantarkannya dihargai lebih oleh orang di sekitarnya. Dia pernah berkeluh-kesah tapi dia juga mengimbanginya dengan cara pantas untuk bertanya tentang solusi masalah yang dihadapi. Puncaknya, ia menanyakan kembali arti eksistensi iman dalam keislamannya yang terombang-ambing dalam pribadi terpingit yang menutup akses pengetahuan agama.

Seperti ungkapannya dalam suatu surat kepada teman korespondensinya di belanda:

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajari membaca Al-quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholih pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).

Inilah yang perlahan namun pasti, Allah rancangkan jawaban atas pernyataan serta usahanya tersebut. Ia pun mulai berkelana dalam kehidupan pencarian jati diri imannya. Hingga suatu saat, ia temukan dalam suatu kajian ilmu tafsir Al-quran yang diberikan oleh Kyai Haji Sholeh Darat sebagai renungan dan jawaban pengelanaan keimanannya selama ini. Kartini begitu takjub akan makna Al-quran dan membuatnya tersadar oleh keimanan yang sebelumnya sempat lunglai oleh hasutan “misionaris” yang keji. Seperti dialognya:

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan sesuatu. Bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, tapi menyembunyikan ilmunya?" Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya. "Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, tapi aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Setelah menghilangkan keraguannya dengan keyakinan terhadap Islam, mulailah petualangan Kartini. Ia bertambah semangat dengan menjadi garda terdepan terhadap proses pencerdasan kaum wanita di bidang ilmu pengetahuan umum serta di bidang keagamaan. Ia berjuang melalui tulisan di media maupun kegiatan sosial pendidikan lainnya.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Dari uraian di atas, pantaslah bagi kita merenung secara maksimal hari ini. Janganlah menunggu masa yang tiba dengan sempurna. Untukmu duhai sahabatku, sudahkah anda saat ini menjadi pribadi yang terus mencari jati diri keislaman Anda? Atau kita hanya merupakan bulir debu dari sejarah peradaban Islam yang mudah tertiup angin sehingga mudah terhapus dan tidak dikenal kebaikannya sebagai seorang khalifah Allah di muka bumi dan bagian dari umat terbaik ini. Mari kuatkan pemahaman Iman kita, untuk selalu berujar kepada semesta megah ini. Dengan kalimat syukur kita atas bimbingan Illahi.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya, (Q.S. Al Baqoroh:257)

“ Door Duisternis Tot Licht ”
(Minazh-Zhulumaati ilan Nuur)
Dari Kegelapan Menuju Cahaya


Oleh : Muhammad Haden Aulia Husein
Sumber : http://rumahzakat.org/detail.php?id=8073&kd=A
  • Berkumpul aneka ragam warna-warni itu lebih banyak disukai dari pada tersendiri, dan itu menunjukan sinergitas, ..
  •